Sekolah di Parung Panjang, dulunya kandang kambing…?
Lagi, semangat anak bangsa kian roboh, karena tempat bernaung mereka untuk mengenyam pendidikan juga nyaris roboh. Bangunan yang hampir roboh itu bernama ”SDN PINGKU 03 Kelas Jauh” Kampung Pabuaran RW.005, Desa Pingku, Kecamatan Parung Panjang, Kodepos 16360, Kabupaten Bogor. Berjarak 15 menit dari pusat ”kota” Parung Panjang, 2 jam 45 menit dari Jakarta Selatan bila melewati daerah Muncul-Serpong. Disebut kelas jauh karena sekolah ini merupakan afiliasi dari SDN PINGKU 03 yang terletak di Kampung Pahelar Rt 003/002, berjarak kurang lebih 2,5 km dari kelas jauhnya, dan dikepalai oleh seorang Ibu bernama Ibu Suharyani (NIP.130 483 407). Ironi memang, karena sebetulnya lokasi sekolah ini tidak jauh dari Bogor maupun Legok, Tangerang, Banten.
Berawal 4 tahun lalu, seorang guru bernama Pak Ghozali, lengkapnya H. Gozali. A.Ma. Pd. (Beliau pernah bekerja di Arab Saudi menjadi driver selama 7 tahun) dan mulai mengabdi di awal sekolah ini dibentuk pada tahun 2004. Bangunan yang hanya berukuran 8 X 14 meter itu dulunya merupakan wakaf dari kakek mertua sang Guru, di tahun 80-an dan pernah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Mathla’ul Huda dan ditutup (karena siswa-siswinya tidak ada yang mau belajar lagi kala itu dan dikosongkan). Hingga waktu bergulir, pria yang berusia belum genap 40 tahun itu menceritakan bahwa sekolah itu dulunya pernah menjadi tempat bernaung kambing selama 8 tahun selepas di kosongkan di tahun 1995. Beliau bersama masyarakat ingin memajukan pendidikan, dan disepakati untuk membuka lagi sekolah dengan nama SDN PINGKU 03 KELAS JAUH, pada 19 Juli 2004, diresmikan oleh Bapak Pengawas UPTD Pendidikan Kecamatan Parung Panjang berstatus kelas jauh. Pantas saja beberapa ekor kambing masih sering berada di area sekolah tersebut, bahkan duduk diam tak bergeming.
Sampai saat ini sekolah tersebut memiliki siswa-siswi sebanyak 133 orang dan tingkatan pendidikannya baru sampai kelas 4 SD, ruangan yang dimiliki hanya sebanyak 3 lokal, dengan kondisi yang amat memprihatinkan. Beratapkan genteng yang sudah lapuk dan beralaskan tanah liat yang pasti becek kala hujan. Tak ayal, kondisi bocor kala hujan pun menjadi suasana rutin bagi siswa-siswi disana untuk selalu menggeser meja kursi mereka, menghindari rintikan hujan agar tetap bisa belajar. Bagaimana kondisi meja dan kursinya? Tentu saja tidak layak bila dibandingkan meja kursi kebanyakan SD Negeri dipusat kota Jakarta.
Tak hanya itu, karena jarak yang cukup jauh dari kantor Dinas UPTD Parung Panjang sekitar 4 km, Pak Guru ini harus berjuang mencapai kantor dinas tersebut dengan meminjam sepeda motor milik adiknya, jika ada. Apalagi bila ulangan umum tiba, tak jarang Pak Guru dan Ibu guru (Ibu Herni) harus ke kota dulu untuk melengkapi administrasi maupun berkas kelengkapan ujian.
Rabu, 18 Juni 2008/14 Jumadil Akhir 1429 H
By : Corporate & Partnership Department Peduli Pendidikan/
Disadur dari :
http://dianipratiwi86.multiply.com/journal/item/14
September 1st, 2008 at 2:25 am
Duuh gimana rakyat parung panjang mo jadi pinter2, lha wong sekolah tempat mengemban ilmunya aja mo ambruk dan jadi kandang kambing!! Anehnya kok para pejabat daerahnya pada “pura-pura” gak tau yaa!!! ironis…..
October 9th, 2008 at 7:57 am
tp ternyata kondisi sekolah yg buruk gak mesti juga bikin anak gak pinter. contoh di sd muhammadiyah gentong di belitong (abis baca novel laskar pelangi neh) anaknya pinter2 tuh, bahkan bisa di bilang sukses (punya prinsip kepribadian okelah). yg paling gemilang mungkin bisa dibilang si andrea hirata. jd mungkin (mksdnya berpikir positif) para pejabat pr panjang bermaksud demikian, membiarkan kondisi seperti begitu dengan harap akan ada andrea hirata yang di parung panjang bro’.
February 12th, 2009 at 5:27 pm
sekarang masih seperti itu ga yah kondisinya? kalau ada minta CP guru, atau yang in charge di sana.. terimaksih,
salam, mika
Daai TV (021) 6123734
May 21st, 2009 at 4:15 am
emang ga seimbang ya! sekolahan yang diberikan bantuan hanya sekolahan yang kepala sekolahnya dekat dengan orang-orang yang berpengaruh dengan pejabat-pejabat saja, padahal bangunan masih bagus, ruangan tercukupi, tapi tetep aja dapat bantuan. tapi sekolahan yang sudah jadi markas kambing malah ga di liat-liat oleh pihak yang terkait, wah tar lagi kayanya yang bakal pinter malah kambing tuh bukan penduduknya! hati-hati nanti malah yang orang yang di gembala sama kambing bukan kambing yang digembala sama orang! tragis nyah