Sekolah di Parung Panjang, dulunya kandang kambing…?

Aug
30

Lagi, semangat anak bangsa kian roboh, karena tempat bernaung mereka untuk mengenyam pendidikan juga nyaris roboh. Bangunan yang hampir roboh itu bernama ”SDN PINGKU 03 Kelas Jauh” Kampung Pabuaran RW.005, Desa Pingku, Kecamatan Parung Panjang, Kodepos 16360, Kabupaten Bogor. Berjarak 15 menit dari pusat ”kota” Parung Panjang, 2 jam 45 menit dari Jakarta Selatan bila melewati daerah Muncul-Serpong. Disebut kelas jauh karena sekolah ini merupakan afiliasi dari SDN PINGKU 03 yang terletak di Kampung Pahelar Rt 003/002, berjarak kurang lebih 2,5 km dari kelas jauhnya, dan dikepalai oleh seorang Ibu bernama Ibu Suharyani (NIP.130 483 407). Ironi memang, karena sebetulnya lokasi sekolah ini tidak jauh dari Bogor maupun Legok, Tangerang, Banten.


Berawal 4 tahun lalu, seorang guru bernama Pak Ghozali, lengkapnya H. Gozali. A.Ma. Pd. (Beliau pernah bekerja di Arab Saudi menjadi driver selama 7 tahun) dan mulai mengabdi di awal sekolah ini dibentuk pada tahun 2004. Bangunan yang hanya berukuran 8 X 14 meter itu dulunya merupakan wakaf dari kakek mertua sang Guru, di tahun 80-an dan pernah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Mathla’ul Huda dan ditutup (karena siswa-siswinya tidak ada yang mau belajar lagi kala itu dan dikosongkan). Hingga waktu bergulir, pria yang berusia belum genap 40 tahun itu menceritakan bahwa sekolah itu dulunya pernah menjadi tempat bernaung kambing selama 8 tahun selepas di kosongkan di tahun 1995. Beliau bersama masyarakat ingin memajukan pendidikan, dan disepakati untuk membuka lagi sekolah dengan nama SDN PINGKU 03 KELAS JAUH, pada 19 Juli 2004, diresmikan oleh Bapak Pengawas UPTD Pendidikan Kecamatan Parung Panjang berstatus kelas jauh. Pantas saja beberapa ekor kambing masih sering berada di area sekolah tersebut, bahkan duduk diam tak bergeming.

”Siswa-siswi disini tidak dipungut bayaran di tahun ajaran belakangan ini,” hanya dulu pernah pada tahun 2004, siswa-siswi yang berjumlah 35 orang pada mulanya dimintakan Rp.5.000,- perbulannya, karena sekolah belum memiliki biaya operasional sama sekali, kisahnya. Setelah itu sampai sekarang tidak dimintakan bayaran, karena sudah mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah dari Pemerintah, namun belum optimal, cerita sang guru yang masih berstatus honorer, dengan gaji yang diterima pada saat awal sekolah dibuka Rp. 50.000,- perbulan. kemudian mencapai Rp. 450.000,- ditahun ajaran 2007/ 2008 ini.

Sampai saat ini sekolah tersebut memiliki siswa-siswi sebanyak 133 orang dan tingkatan pendidikannya baru sampai kelas 4 SD, ruangan yang dimiliki hanya sebanyak 3 lokal, dengan kondisi yang amat memprihatinkan. Beratapkan genteng yang sudah lapuk dan beralaskan tanah liat yang pasti becek kala hujan. Tak ayal, kondisi bocor kala hujan pun menjadi suasana rutin bagi siswa-siswi disana untuk selalu menggeser meja kursi mereka, menghindari rintikan hujan agar tetap bisa belajar. Bagaimana kondisi meja dan kursinya? Tentu saja tidak layak bila dibandingkan meja kursi kebanyakan SD Negeri dipusat kota Jakarta.

Tak hanya itu, karena jarak yang cukup jauh dari kantor Dinas UPTD Parung Panjang sekitar 4 km, Pak Guru ini harus berjuang mencapai kantor dinas tersebut dengan meminjam sepeda motor milik adiknya, jika ada. Apalagi bila ulangan umum tiba, tak jarang Pak Guru dan Ibu guru (Ibu Herni) harus ke kota dulu untuk melengkapi administrasi maupun berkas kelengkapan ujian.

Kondisi makin sulit, murid makin banyak, sekolah hampir roboh, kambing masih sering berkunjung ke rumah lamanya, bocor jadi hal biasa kala hujan, meja dan kursi tinggal menunggu waktu untuk lebih reot rusak tak layak, para guru berkoordinasi untuk membahas keberlangsungan sistem pendidikan sekolah dilakukan di warung depan sekolah, terlebih BBM naik, apakah bisa bertahan jika penghasilan guru hanya Rp. 15.000,- perharinya??? TANYA SIAPA???

Rabu, 18 Juni 2008/14 Jumadil Akhir 1429 H

By : Corporate & Partnership Department Peduli Pendidikan/

Diani Pratiwi

Disadur dari :
http://dianipratiwi86.multiply.com/journal/item/14


4 Responses to “Sekolah di Parung Panjang, dulunya kandang kambing…?”

  1. Mudza Says:

    Duuh gimana rakyat parung panjang mo jadi pinter2, lha wong sekolah tempat mengemban ilmunya aja mo ambruk dan jadi kandang kambing!! Anehnya kok para pejabat daerahnya pada “pura-pura” gak tau yaa!!! ironis…..

  2. marlin Says:

    tp ternyata kondisi sekolah yg buruk gak mesti juga bikin anak gak pinter. contoh di sd muhammadiyah gentong di belitong (abis baca novel laskar pelangi neh) anaknya pinter2 tuh, bahkan bisa di bilang sukses (punya prinsip kepribadian okelah). yg paling gemilang mungkin bisa dibilang si andrea hirata. jd mungkin (mksdnya berpikir positif) para pejabat pr panjang bermaksud demikian, membiarkan kondisi seperti begitu dengan harap akan ada andrea hirata yang di parung panjang bro’.

  3. mika wulan Says:

    sekarang masih seperti itu ga yah kondisinya? kalau ada minta CP guru, atau yang in charge di sana.. terimaksih,

    salam, mika
    Daai TV (021) 6123734

  4. cemen Says:

    emang ga seimbang ya! sekolahan yang diberikan bantuan hanya sekolahan yang kepala sekolahnya dekat dengan orang-orang yang berpengaruh dengan pejabat-pejabat saja, padahal bangunan masih bagus, ruangan tercukupi, tapi tetep aja dapat bantuan. tapi sekolahan yang sudah jadi markas kambing malah ga di liat-liat oleh pihak yang terkait, wah tar lagi kayanya yang bakal pinter malah kambing tuh bukan penduduknya! hati-hati nanti malah yang orang yang di gembala sama kambing bukan kambing yang digembala sama orang! tragis nyah

Leave a Reply