Menyusuri Lorong Gua Gudawang

Aug
10

Ke mana enaknya untuk mengisi waktu liburan? Ada banyak pilihan. Bagi yang senang dengan kegiatan alam bebas, bisa bertualang ke pegunungan atau mengikuti kegiatan perairan. Di samping itu, ada petualangan yang tak kalah menarik, yaitu menyusuri gua alam.

eberapa waktu lalu, sekelompok remaja yang tergabung dalam organisasi Trupala SMU VI Jakarta mengisi waktu liburnya dengan menyusuri gua bawah tanah, yaitu Gua Gudawang. Gua yang berada di wilayah Desa Argapura, Kecamatan Cigudek, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini dipilih karena relatif dekat dan mudah dijangkau.

Setelah berlumpul pukul 06.00 pagi di sekretariat Trupala yang bertempat di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, Jessica (17 tahun), Tasya (16), Icil (16), Melati 16), Puti (17), dan Maya (16) berangkat menuju stasiun KA Kebayoran Lama pada pukul 09.30. Keenam siswi SMU VI itu juga ditemani oleh anggota senior lainnya yaitu Puji (17), Tito (20), Zega (20), Sopian (27), dan penulis (28).

Pukul 13.00 mereka sampai di kota kecil Parung Panjang dan menyewa angkot untuk menuju daerah Gudawang. Jalan aspal yang rusak dan berbatu, disertai pemandangan gersang perkebunan kelapa sawit, tanah berbukit-bukit dan sesekali terdapat perkampungan dan sawah tadah hujan, mewarnai perjalanan siang hari itu hingga sampai pada pukul 14.00.

Suasana di objek wisata yang mempunyai luas 2,7 ha ini terasa sepi pada siang hari itu. Di antara rerimbunan pepohonan terdapat singkapan batuan kapur di sana-sini. Sebuah pendopo kami jadikan base camp dan langsung saja kami berbagi tugas. Ada yang mempersiapkan makan siang, mendirikan tenda dan ada yang mempersiapkan peralatan yaitu, helm, sepatu boot karet, senter, lampu karbit, webbing, mempersiapkan makanan kecil dan dry bag sebagai tas anti air. Setelah mempersiapkan peralatan dan makan siang, pukul 16.00 semuanya bersiap untuk menyusuri Gua Segaraan.


Berundak-undak

Gua Segaraan yang berada sekitar 1 kilometer dari objek wisata Gua Gudawang ini terdapat di perkebunan penduduk. Setelah diberi pengantar oleh penulis tentang pengetahuan caving, mulailah kami melakukan penelusuran. Pertama-tama mereka menyusuri sebuah pintu masuk gua berupa tanah berundak-undak memasuki sebuah lorong kecil sehingga kami harus berjongkok. Sekitar 10 meter kemudian lorong melebar sehingga kami dapat berdiri walaupun dengan keadaan gelap. Senter dan lampu karbit menjadi sumber cahaya utama.

Kelelawar tampak mengantung di langit-langit gua. Dasar gua berbatu dengan bercampur dengan tanah dan lumpur. Kemudian lorong menyempit tetapi dengan langit-langit gua yang tinggi. Berlanjut kembali atap gua rendah dan miring sehingga kami harus kembali berjongkok. Akhirnya kami sampai di sebuah ruang dengan batu-batu besar di dasarnya dan atap yang tinggi terbuka dan di sana-sini terdapat akar-akar pohon yang mejulur.

Setelah menikmati makanan kecil sebentar, kami kembali hingga sampai di lorong lebar yang tidak jauh dari jalan masuk. Namun di sana terdapat lorong yang berbelok ke arah kanan, akhirnya kami menyusuri lorong tersebut. Lorong semakin kecil hingga kami harus merangkak dan lorong berakhir menuju sebuah lobang berada sekitar 4 meter ke atas. Walaupun harus sedikit memanjat, akhirnya kami keluar di antara ilalang dan akar-akar pohon. Ternyata di luar sudah mulai gelap dan kami kembali ke pendopo.

Gua Sipahang

Penelusuran kedua kami lakukan pukul 23.00 setelah kami makan malam dan mempersiapkan peralatan serta penulis memberi sedikit pelajaran soal safety procedure saat melakukan caving. Gua yang kami tuju kali ini adalah Gua Sipahang.

Objek wisata Gudawang, mempunyai 3 buah gua yaitu Masigit, Simenteng dan Sipahang. Gua Masigit pendek dan Gua Simenteng lebih banyak dimasuki oleh pengunjung. Selain relatif lebih mudah, gua ini dekat dengan loket masuk dan taman serta pendopo. Tetapi Gua Sipahang relatif lebih sulit dan diperuntukan bagi para pengunjung yang memiliki keterampilan khusus menyusuri gua dan memang letaknya jauh sekitar 200 meter dari pintu utama.

Kali ini Sopian memilih untuk tinggal di pendopo sehingga penelusuran dilakukan dengan 10 orang. Setelah berjalan sekitar 5 menit menyusuri dan setapak berbatu, akhirnya kami sampai di 2 buah lorong besar. Di sebelah kiri tampak lorong gua berair, sedangkan lorong di sebelah kanan yang kami pilih untuk kami masuki.

Awalnya lorong cukup luas untuk kami berdiri dan berjalan menyusuri gua yang berkelok-kelok ini. Namun makin lama lorong semakin rendah dan berair. Dengan aliran air yeng tenang dan jernih, sesekali terlihat beberapa ikan kecil, jangkrik, udang dan ikan lele kecil dan tentunya kelelawar yang beterbangan di sana-sini. Tentunya kami tidak mengganggu atau menangkap hewan-hewan khas gua ini.

Kami melanjutkan penyusuran sambil menikmati ornamen-ornamen gua dengan bentuk-bentuknya yang unik. Ada yang membentuk seperti gigi kecil dan memanjang yang disebut gripper, berbentuk batu yang mengalir dari langit-langit gua ke bawah yang biasa disebut flowstone, ornamen yang membentuk batuan dengan permukaan batunya yang seperti berundak-undak kecil yang dinamakan gourdem, dengan warnanya yang putih dan jernih.

Namun kenikmatan penyusuran gua sempat terganggu dengan terlihatnya seekor ular hitam dengan panjang lebih dari 1 meter sebesar lengan sekitar lima meter di depan kami. Ular itu tampaknya terusik oleh kehadiran kami dan pergi menghindar memasuki sebuah lubang kecil di sudut dinding gua. Walaupun sempat merasa takut, akhirnya kami melanjutkan penyusuran sambil menghindari lubang ular tadi dengan berjalan mendekati sisi gua yang berlumpur tebal. Lumpur gua ini memang terasa lebih tebal dari biasanya. Jika lumpur ini mengendap dan dibawa oleh banjir akibat hujan, kemungkinan daerah di atas gua ini mungkin mulai gundul dan tidak dapat menahan erosi akibat hujan deras dan membawanya ke dalam gua.

Penyusuran gua kami terus lakukan dengan medan yang berkelok-kelok, berair serta dihiasi ornamen-ornamen yang indah. Setelah melewati lorong yang terdiri dari brake down, yaitu kumpulan boulder atau batu-batu besar yang sepertinya runtuh dari atap gua,kahirnya kami sampai diakhir lorong yang dapat disusuri yang ditandai oleh sebuah chamber atau ruangan luas dengan aliran air di salah satu sudutnya. Lorong menjadi merendah dan terpecah dua, ke kiri lorong mengecil dan berlumpur tebal, ke arah depan berair dan menyempit.

Lorong terasa semakin dalam saat kaki mulai tidak dapat berpijak menyentuh dasar gua, hingga akhirnya kami menghentikan penyusuran akibat gua yang semakin berair dalam. Kami tidak membawa peralatan yang cukup agar dapar menelusuri gua berair dalam tadi dengan aman. Akhirnya kami kembali. Dengan perasaan puas dan lelah kami berjalan menuju pendopo. Cuaca mendung disertai hujan gerimis, jam menunjukan pukul 02.00 pagi. Saatnya membersihkan diri dan kemudian beristirahat. Pukul 11.00 siang kami pulang kembali ke Jakarta.

IGN FERRY IRAWAN



Diambil dari :
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/08/01/Hobi/hobi1.htm

One Response to “Menyusuri Lorong Gua Gudawang”

  1. Kampanye damai Pemilu Indonesia 2009 Says:

    Very nice information. Thanks for share………

    *blogwalking nich….mampir ke tempatq yach..*

Leave a Reply